(Book Review) What I Learned From “I WANT TO DIE BUT I WANT TO EAT TTEOPOKKI” : Book By Baek Se Hee

Buku ini saya beli atas rekomendasi ex-teman kantor. Teman saya tau buku ini dari RM BTS. Ya, saya adalah seorang ARMY sejak Agustus 2020 (sorry, not sorry) 🙂 These boys are all over my social media, and now they are the most influential boyband in the world, well, at least for the past 3 years.

Buku ini ditulis oleh Baek Se Hee seorang wanita korea yang selalu merasa depresi dan melakukan usaha penyembuhan ke seorang psikiater. Isi buku ini berisi percakapannya dengan psikiater dari sesi konsultasi yang ia rekam. I have so many thoughts whilst & after reading this book. Mostly feel relieved and hope everyone understood what she’s trying to say.

Jika bisa saya simpulkan, akar dari seluruh perasaan yang tidak enak atau tidak nyaman di diri adalah kurangnya rasa “Mencintai Diri sendiri”.

Orang-orang sering berkata “love your self “. Tetapi, sebenarnya kata-kata itu terlalu abstract. Apasih yang disebut dengan mencintai diri sendiri? Bukankah setiap orang pasti mencintai dirinya sendiri? Trus kenapa? Di tulisan ini mungkin bisa membuat pembaca merefleksikan ke diri sendiri, apakah kita sudah cukup mencintai diri kita sendiri.

Disini saya akan menulis apa yang yang saya dapat di dalam buku ini. Saya rasa setiap orang bisa relate dengan apa yang Baek Se Hee alami.

1. FOKUS KEPADA DIRI SENDIRI

Yang paling teringat bagi saya adalah saat Psikiaternya mengatakan “Perasaan kita adalah yang paling penting. Tubuh anda adalah milikmu sendiri dan anda adalah orang yang paling bertanggung jawab atas hidupmu sendiri”. Psikiaternyapun juga berkata, “Tidak apa-apa jika ingin mencoba sesuatu yang kita inginkan, walaupun kita tau itu akan gagal”.

Hal ini dikarenakan Baek Se Hee selalu mengkhawatirkan pemikiran orang lain terhadapnya. Akibatnya kepuasan terhadap diri sendiri menjadi menurun dan meragukan diri sendiri. Kepuasan diri adalah hal yang sangat penting. Jika tidak suka akan sesuatu, jangan lakukan. Kita harus mendahulukan kebutuhan kita terlebih dahulu. Put yourself first.

2. ACCEPTING DIFFERENCES

Kita boleh saja tidak suka dengan sesuatu. Hal ini juga berlaku bagi orang lain yang bisa juga mempunyai pendapat sendiri. Yang harus diperhatikan jika kita berbeda pendapat dengan orang lain, terima saja. Tidak ada salah maupun benar. Tidak perlu kita merasa bersalah ataupun buruk karena berbeda dari orang lain.

Baek Se Hee juga digambarkan menganggap perilaku orang terhadapnya adalah sebuah penolakan. Psikiaternya bilang, “Kita boleh saja memiliki keluhan tantang lawan interaksi kita. Namun, kita harus membedakan hal kecil terhadap keseluruhan yang besar. Kita tidak bisa menyukai seseorang secara keseluruhan hanya karena kita menyukai satu bagian kecil dari dirinya. Sebaliknya kita tidak bisa membenci seseorang secara keseluruhan hanya karena kita tidak suka satu bagian kecil dari dirinya”

3. PUNYA STANDART YANG TINGGI

Baek Se Hee digambarkan psikiaternya memiliki standart yang tinggi terhadap sesuatu. Setiap gagal mencapai sesuatu yang ideal itu, maka Baek Se Hee akan menghukum dirinya sendiri. Ia akan melakukan sesuatu yang tidak disukai untuk menghukum dirinya sehingga ujungnya menjadi menyalahkan diri sendiri dan merasa dirinya buruk.

Lama kelamaan, kebiasaan “menghukum diri sendiri” bisa menjadi candu dan kepuasan diri sendiri sehingga ingin terus melakukannya.

Psikiaternya juga bilang bahwa Baek Se Hee adalah orang yang selalu melihat sesuatu hitam dan putih, padahal dunia terdiri dari berbagai macam warna. Contohnya, jika berteman pilihannya berteman akrab atau tidak sama sekali, tidak ada ditengah-tengah. Sehingga berkecenderungan menahan diri atau bertahan untuk terus berteman karena punya standard pikiran tertentu walaupun hubungan tersebut tidak baik.

Psikiaternya sering kali bilang kepada Baek Se Hee untuk mencoba untuk melakukan sesuatu yang diinginkan. Jangan melakukan karena orang lain ataupun jangan menahan diri hanya karena pikiran-pikiran yang kita terapkan ke diri sendiri.

4. MENGENAL DIRI SENDIRI

Baek Se Hee selalu mengawasi dirinya sendiri seperti CCTV. Dia berusaha untuk disukai banyak orang, dilain sisi dia merasa tidak pantas dan buruk dibandingakan orang lain. Dia pun takut jika orang lain merendahkan dan menjauhinya.

Psikiaternya bilang bahwa: “Jika seseorang merasa puas dengan dirinya sendiri, maka kita tidak akan berpengaruh kepada apapun yang akan dikatakan orang lain. Untuk bisa seperti itu, kita harus mengenali diri kita sendiri. Sebaiknya anda bersikap masa bodoh dan membiarkan orang-orang menilai sesuka hati mereka. Anda hanya perlu menikmati keseharian anda. Anda hanya memiliki rasa takut akan terpinggirkan dan terabaikan.”

Sebenarnya ada banyak hal lainnya yang berkesan, namun keempat point itu adalah hal yang paling membekas di hati saya. Kenapa? karena saya merasa hal-hal tersebut pernah saya alami. Dulu (mudah-mudahan sekarang tidak), saya sering kali berusaha mengontrol diri saya sendiri. Saat itu saya berpikir bahwa itu bai, mendisiplinkan diri sendiri. Padahal itu adalah tindakan-tindakan yang membuat saya tidak mencintai diri saya dengan baik.

Contohnya, jika saya terlalu banyak bermain, saya pasti merasa bersalah dan jadi tidak suka dengan diri saya sendiri. Jika saya gagal, saya pun akan “menghukum” diri sendiri dengan menahan melakukan hal-hal yang membuat saya bahagia dulu selama beberapa waktu. Dan saya juga kurang memberi apresiasi terhadap pencapaian yang telah saya buat.

Saya pun belajar melalui Baek Se Hee, bahwa penyebab seluruh permasalahan adalah tidak menghargai diri sendiri seperti yang seharusnya. Kita bisa melihat jelas dibuku, she’s beautiful, smart, memiliki karir, pacar yang setia dan baik, tapi mengapa dia tidak bahagia dan selalu merasa seakan tidak punya apa-apa?

Siapapun yang membaca menjadi tahu bahwa bisa saja hal sehari-hari yang kita rasakan selama ini, muncul dari kurangnya penghargaan dan kecintaan diri. Sebagai pembaca, tulisan dibuku ini membuat kita merefleksikan masalah Baek Se Hee ke diri kita dan bertanya, “Apakah saya juga seperti itu?”

Reflection, do you like what you see? (free photo from unsplash.com)

Sebagai penutup, ini adalah hal yang paling saya suka dari apa yang Baek Se Hee tulis dibukunya:

Hanya satu “aku” di dunia ini. Dengan begitu aku adalah sesuatu yang amat special. Diriku adalah seseorang yang harus aku jaga selamanya. Diriku adalah sesuatu yang harus kubantu secara perlahan, kutuntun selangkah demi selangkah dengan penuh kasih sayang dan kehangatan. Diriku adalah sesuatu yang butuh istirahat sesaat sambil menarik napas panjang atau terkadang butuh cambukan agar bisa bergerak kedepan. Aku percaya bahwa aku akan menjadi semakin bahagia jika aku semakin sering melihat ke dalam diriku sendiri.” (Baek Se Hee)

2 Comments Add yours

  1. daewinindonesia says:

    Wah artikel nya menarik, Semngat ngeblog nya ya kak!

    Jangan lupa kunjungi blog kami juga di http://www.daewinindonesia.com/blog

    Terima kasih

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s