(Book Review) What I Learned From “THE POWER OF LANGUAGE”: Book By Shin Do Hyun & Yoon Na Ru

Awalnya saya pikir buku ini berisi tata cara berbahasa yang baik dan benar. Bagaimana cara berbicara dengan berbagai macam orang yang bebeda-beda background. Namun ternyata buku ini mengupas lebih dari itu.

Dibuku itu ditulis, “Jika ingin mengubah bentuk air di sebuah mangkuk, kita harus mengubah bentuk mangkuk itu. Jika ingin memoles kata-kata yang bermakna, kita harus menjadi orang dengan pemikiran yang dalam. Jika ingin mengucapkan kata-kata yang bisa dipercaya, kita harus menjadi orang yang bisa dipercaya.”

Di buku itu juga disampaikan bahwa disaat kita tidak dapat menyampaikan maksud kita pada orang lain, sebenarnya inti permasalahannya bukanlah kata-katanya (dianalogikan dengan air), tetapi adalah orangnya sendiri (dianalogikan sebagai mangkuk).

Saat saya membaca itu, dikepala saya muncul berbagai pertanyaan. Penulis tidak secara gamblang menjelaskannya, namun saya rasa saya paham maksudnya. Tentu kita ingin tutur bahasa dan kata-kata yang keluar dari mulut kita diterima dengan baik. Pertanyaanya, bagaimana cara kita menyampaikan apa yang ingin kita katakan dengan baik? It’s like a twist plot of a book, caranya adalah: hargai diri sendiri.

Awalnya saya bingung, dan berpikir, apa hubungannya? Ternyata sangat berhubungan! Bahasa adalah alat kita berkomunikasi yang berisi kata-kata dan ekspresi. Sedangkan kata-kata itu sendiri adalah suatu hasil pemikiran. Bayangkan jika orang tersebut sedang marah, maka yang keluar dari mulutnya tentu akan berisi hal-hal yang tidak akan diterima oleh orang lain. Atau jika sedang bersedih, maka yang mungkin keluar adalah kata-kata negatif terhadap diri sendiri.

“Orang yang tidak mencintai diri sendiri dan memiliki rasa percaya yang rendah tidak bisa memahami dan mempercayai dirinya sendiri.”

Hal ini dikarenakan, diperlukan pemahaman situasi dan pengendalian emosi diri (marah, sedih, minder, takut dsb) yang baik, supaya tidak menimbulkan masalah komunikasi yang tidak perlu. Untuk itu, diperlukan suatu penghargaan diri dan penilaian diri kita dengan baik. Bagaimana cara kita menilai diri kita? Jika ingin mencintai diri sendiri, maka step pertama adalah kenali diri sendiri dahulu. Tidak mungkin bisa menilai sesuatu jika kita sendiri tidak kenal bukan?

Buku ini berusaha menjelaskan tentang cara kita mengenali diri sendiri, seperti:

  1. “Kita harus melihat diri sendiri melalui mata kita bukan orang lain. Kita juga harus tau apa yang diri kita sukai? apa impian kita yang sebenarnya? terlepas dari norma atau aturan yang sudah ada. Kita harus hidup sebagai subjek dalam hidup kita. Menjadi pemeran utama berarti tidak mengikuti kehendak orang lain.”
  2. “Orang yang tidak mengetahui nilai dari dirinya, tidak akan bisa mengetahui nilai dari orang lain. Saat kita berpusat kepada diri sendiri, maka kita akan membangun dunia sendiri dan bisa memahami ‘kau’ sama dengan ‘aku’. Sebaliknya, orang yang tunduk dengan norma/orang lain dan tidak menjalankan apa yang dia inginkan, maka akan merasa tertekan dan menderita. Mereka akan berpikir orang lain harus berkorban seperti dirinya.”
  3. “Kita harus bisa memahami dengan jelas situasi yang kita hadapi beserta perasaan yang muncul dalam diri saat itu. Terkadang stuktur perasaan tidak selaras, seperti kita memunculkan rasa cemburu disaat seharusnya berterimakasih, atau memunculkan rasa bersalah disaat seharusnya merasa berterimakasih.”
  4. Semua orang memiliki keinginan untuk berbicara yang lebih besar daripada mendengarkan, namun kemampuan mendengarkan dan menyimak jauh lebih penting supaya paham isi pembicaraan dan membalas percakapan dengan sesuatu yang bermakna.
  5. Berbicaralah dengan seimbang dengan membuang kebiasaan asal melontarkan kata, dan berbicara sesuai dengan tempat, waktu dan situasinya.
  6. Ucapan harus dibarengi oleh tindakan. Sesuatu yang menyentuh hati, bukan berasal dari kata-kata, melainkan dari kehidupan orang tersebut. Oleh karena itu, sering kali sebuah perkataan yang sama memiliki arti yang berbeda jika diucapkan oleh orang yang berbeda.
  7. Untuk bisa mempunyai pemikiran yang lebih mendalam, kita harus mengumpulkan ilmu pengetahuan sehingga kita memiliki perspektif/ pandangan tentang sesuatu.
Improve you knowledge (Free photo from unsplash.com)

Sebagai penutup, kata-kata yang paling saya suka dalam buku ini adalah:

Membuat isi ucapan menjadi sesuatu yang dalam adalah wujud kecerdasan. Kecerdasan berarti memahami diri sendiri dan orang lain serta memahami manusia dan dunia. Belajar mengintrospeksi diri dengan menjadikan ucapan dan tulisan orang lain sebagai pembelajaran. Pengetahuan yang kita terima harus kita interpretasi sesuai dengan pemahaman kita, barulah pengetahuan itu bisa menjadi kecerdasan dan hikmat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s