(Movie Review) What I Learned From “SOUL (2020)”: Movie By Disney & Pixar

Saya sering mendengar seruan “Live For The Moment” yang maknanya adalah hiduplah pada masa sekarang. Dulu, saya memahami artinya sebagai ajakan untuk bersenang-senang yang dibungkus dengan kata-kata bijak. Selain itu,kalimat itu terlihat sebagai ajakan untuk melupakan masalah yang sedang dihadapi sekarang. Namun, setelah menonton film Soul karya Disney & Pixar ini, membuat saya berpikir, artinya ternyata lebih dalam dari itu.

Untuk lebih jelas, saya akan menulis summary filmnya dahulu (DISCLAIMER SPOILER!). Kisah tentang seorang guru musik di sekolah bernama Joe yang memimpikan menjadi jazz pianist & sangat mengidolakan saxophonist jazz legend bernama Dorothea Williams.

Suatu saat, dia mendapat kesempatan untuk bisa satu panggung bersama idolanya, namun naas, sebelum itu terjadi dia kecelakaan dan meninggal.

Singkat cerita, he cheats death, and his soul wandered to somewhere called Great Before, where people are being prepared to be sent to the earth.

Dia pun berpikir keras bagaimana caranya bisa ke Bumi lagi, karena dia selalu berpikir Jazz is his life. He must live!

Dorothea & her band (D23.com)

Disana, para “souls” akan dipandu oleh mentor untuk mendapatkan passion atau disebut “sparks” untuk ke bumi. Setiap “soul” akan dinilai siap ke bumi jika “sparks” sudah terkumpul lengkap. Joe pun berpura-pura menjadi mentor salah satu soul yang dinamakan “#22” sambil mencari cara untuk kembali ke tubuhnya. Soul yang dia mentori pun cukup challenging, karena #22 ini cukup cynical dan tidak mau lahir ke bumi karena merasa tidak punya tujuan untuk hidup.

Namun karena suatu kejadian, mereka berdua pun terlempar ke bumi. Tetapi, justru #22 yang masuk ke badan Joe, sedangkan Joe masuk ke badan seekor anjing. Hal menjadi runyam karena dalam beberapa jam Joe akan tampil bersama Dorothea Williams.

Saat ada di bumi, #22 yang awalnya sceptic, merasa harus menemukan tujuan hidupnya. Lalu tanpa diduga, Joe dan #22 pun tertangkap dan dikembalikan ke Great Before karena dianggap itu bukan tempat mereka.

Saat itu #22 baru sadar bahwa sparks-nya sudah terisi semua dan siap untuk ke bumi. Joe pun merasa bahwa sparks atau passion tersebut adalah punyanya, karena #22 sempat di dalam tubuhnya Joe.

#22 pun merasa down, merasa bahwa benar, dia tidak punya tujuan hidup, tujuan hidup yang dia temukan adalah punya Joe. Joe yang merasa bersalah, mencoba mencari #22, yang semakin tenggelam dan berubah menjadi “lost soul”.

Disaat itu, Joe baru menyadari bahwa passion itu bukan tujuan hidup. Sparks itu hanyalah suatu tanda bahwa seseorang siap untuk hidup di dunia, tapi bukan tujuannya. Ia pun hidup lagi ke bumi dan berjanji, he will appreciate every moment of his life.

Ada banyak hal yang saya dapatkan dari film ini:

  1. Passion bukan segalanya. Sering sekali kita berpikir ‘saya mau ngapain ya?’ atau membandingkan pencapaian orang lain yang kita pikir punya passion, and they happy with that. Life itself is a process. Proses mengenali diri sendiri lalu dapat menghargai diri sendiri. Menghargai kelebihan-kelebihan kita yang dapat kita kembangkan. It is okay, if we don’t know what we want or do at the moment.
  2. Do not limit yourself to one thing that you think is necessary in yourlife. Joe digambarkan tidak akan mengambil tawaran kerja sebagai guru tetap, demi menjalani tawaran bermain piano bersama saxophonist jazz terkenal. Sedangkan kondisi Joe adalah pria dewasa yang terkadang masih disupport oleh ibunya. Karena dipikirannya hanya Jazz dan Jazz, dia menjadi idealist yang merasa bisa membahagiakannya hanya jazz. Padahal there’s a lot of things that can make us happy and to be grateful for. Being grateful it self saja sudah bisa membahagiakan.
  3. Live for the moment. Hidup untuk hari ini, tidak terlalu khawatir dengan masa dengan, dan tidak dibayan-bayangi oleh masa lalu. Nikmati. Sedikit bercerita, setiap melihat foto-foto liburan waktu kecil, saya selalu berfoto berempat dengan kakak, adik dan ibu saya. Hampir setiap liburan saya selalu ‘ngambek’ dengan keluarga saya. Saya tidak berfokus membuat memori-memori indah saat itu. Sekarang, kita semua sudah tumbuh dewasa, tidak pernah lagi berempat karena sudah mempunyai keluarga sendiri. There’s nothing wrong with that, itu hanyalah bagian dari hidup, yang berlalu sangat cepat. Namun, itu membuat saya jadi lebih menghargai moment hidup yang sedang terjadi, yang tidak dapat diulang.

We can’t turn back time, we only can learn something from the past. Live for this moment. Do good, spread love to the one you love, do something that you know will advantages yourself in the future. If you don’t know it yet, do something in front of your eyes right now or do something that you’re currently doing, until the time is come. Even if you’re wrong, it’s okay, you can try again. Life is just about trials, after all.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s