(Book Review) What I Learned from “HOW TO RESPECT MYSELF”: Book By Yoon Hong Gyun.

Buku ini saya beli bulan Februari 2021 di salah satu buku di Jakarta Selatan. Saat itu, saya baru saja selesai membaca buku “I want to die but I want to eat tteopokki” yang ditulis Baek See Hee tentang perjalanannya menyembuhkan destimia (depresi yang berkepanjangan) yang dia alami selama bertahun-tahun. Buku tersebut cukup membuka pikiran dan hati saya. Jika dari buku Baek See Hee saya belajar mengindentifikasi masalah, maka buku ini lebih menjelaskan lebih detail mengenai bagaimana cara untuk menghargai diri sendiri.

Buku “How to respect myself” ini ditulis oleh seorang Psikiater berkewarganegaraan korea bernama Yoon Hong Gyun. Buku ini mengajarkan banyak hal, terkait harga diri (self-esteem) yang cukup intens. Yoon Hong Gyun menegaskan di awal-awal buku ini, yaitu harga diri harus dijaga oleh kita sendiri. Memang ada berbagai cara dan jalan untuk menjadi bahagia, tetapi kebahagiaan yang sesungguhnya datang dari harga diri yang kuat.

APA ITU HARGA DIRI ? Arti mendasarnya adalah penilaian kita terhadap diri sendiri.

Pilar harga diri ada tiga: (1) Seberapa besar kita merasa bermanfaat bagi orang lain (2) kemampuan kita untuk melakukan sesuatu sesuai dengan keinginan kita; dan (3) kemampuan kita untuk merasa aman dan nyaman.

Notice something? subject-nya adalah “kita”. BUKAN seberasa besar orang lain merasa bermanfaat, tapi seberapa besar KITA merasa bermanfaat bagi orang lain. Dengan kata lain, harga diri sering disebut dengan ‘kadar cinta terhadap diri sendiri’.

Saya akan menuliskan hal-hal yang menurut saya sangat menarik dari buku ini untuk lebih memahami mengenai penghargaan diri sendiri, antara lain:

  1. Pisahkan tingkat kepuasan antara tempat kerja, pekerjaan dan diri sendiri. Jangan memberi makna pada tempat kerja. Setelah keluar dari pintu kantor, semua pekerjaan terkait pekerjaan harus dihentikan. Tidak perlu membawa rasa stress di kantor ke rumah. Jika tidak senang dengan pekerjaan, jangan membuat kehidupan kita juga jadi tidak memuaskan. Kehidupan setelah pulang kerja adalah nyata dan weekend itu penting. Jika ada yang ingin dipikirkan terkait pekerjaan yang mengganggu pikiran, pikirkanlah di jam kerja, karena gaji kita termasuk itu. Apabila terpaksa, luangkan waktu saat itu saja.
  2. Kadar kesuksesan diukur dari seberapa besar masyarakat membutuhkannya. tidak terbatas dari uang saja. Orang yang sangat dibutuhkan bisa dibilang adalah orang yang sulit digantikan. Jika seorang pegawai yang sakit, akan mudah digantikan oleh rekannya atau atasannya. Namun, jika seseorang yang menjabat posisi tinggi, misalnya seorang direktur, akan lebih sulit untuk digantikan. Untuk itu kita bisa lebih menilai bahwa seorang direktur lebih sukses.
  3. Jika mempunyai masalah harga diri, kemungkinan besar akan mempunyai masalah dengan cinta. Rasa curiga, marah, kesepian, rasa malu akan lebih mudah muncul karena membenci kondisi kita yang seperti ini. namun, kita jangan mengeneralisir apakah kita cocok dengan cinta ata tidak. Kita hanya perlu menyadari bahwa : “Saya mempunyai masalah dengan harga diri, makanya selama ini aku sulit untuk mencintai”
  4. Memutuskan sesuatu untuk diri sendiri dan merasa puas pada keputusan tersebut dapat menaikkan harga diri. Orang yang rendah diri tidak akan bisa memutuskan untuk hidupnya sendiri dan akan bergantung pada keputusan orang lain. Hal ini dikarenakan mereka tidak percaya terhadap dirinya sendiri.
  5. Mengecap diri sendiri ataupun dicap orang lain dengan julukan tertentu bisa menurunkan harga diri. Contohnya adalah julukan “anak dari orangtua bercerai”, “anak yang mengalami kekerasan”, “gadis jelek dan gemuk” ataupun “anak yang tidak berguna & bodoh” akan membuat orang dijuluki sulit menghormati dirinya sendiri.
  6. Seringkali dua perasaan yang bertolak belakang muncul disaat yang bersamaan. Contohnya adalah seseorang yang sedang konseling tentang pernikahannya. Sering kali pasien mengungkapkan kekecewaan dan ketidaksukaannya terhadap pasangannya. Namun, dilain sisi ia mengharapkan pasangannya dapat berubah sehingga dapat mengurangi kekecewaan itu. Semakin besar kekecewaannya, semakin besar pengharapannya. Boleh dibilang, ia menggantungkan kebahagiannnya pada pasangannya. Hal ini yang akan menjadi “lingkaran setan”.

Itu adalah 6 point yang membekas di hati saya. Sebenarnya banyak sekali insight-insight yang lebih detail dari berbagai kasus, jadi setiap orang mungkin akan menanggapi bacaan ini secara berbeda-beda sesuai dengan pengalaman hidupnya. Namun, bisa saya simpulkan bahwa buku ini sedikit banyak memberikan jawaban terhadap pertanyaan dan kebingungan dari orang-orang yang hatinya terluka.

Sebagai penutup, saya akan menuliskan sedikit epilog dari buku ini yang cukup menginspirasi bagi saya:

“Dulu saya pikir singa adalah ‘raja hutan’ yang hidup nyaman dan berburu sebanyak yang ia mau. Belakangan saya baru tau bahwa singa diserang kudanil yang balas dendam atas kematian anaknya. Tidak hanya itu, hewan liar seperti hyena dan burung hering yang berusaha menyerang anak-anaknya. Zebra yang sering menjadi hewan buruan, pun ternyata bisa berlari kencang dan tendangannya dapat merontokkan rahang sang singa jika terkena. Hewan yang dianggap sebagai raja dari para binatang bisa mati karena gigitan ular ataupun lari karena takut terinjak kawanan gajah. Singa yang begitu saya irikan, ternyata bertahan hidup hari demi hari dengan penuh kesulitan.

Lalu saya berpikir, tidakkah kehidupan kita juga demikian. Mungkin saat ini kita semua sedang menjalani kehidupan singa yang menyedihkan.Kita ingin berada di pusat dunia dan keluarga memercayai kita, tapi ternyata dunia hanyalah ancaman bagi kita. Saat ini kita sedang bertahan hidup seperti singa yang lelah di hutan yang bernama dunia.

Namun, perlu diingat bahwa kita lebih hebat dari singa. Kita adalah anak sekaligus orangtua, pasanagan, prajurit yang menghadapi banyak krisis, dan pahlawan yang melindungi hidup dan tidak bisa digantikan. Kadangkala kita kehilangan fokus akibat serangan tak terduga dan menangis dalam keputusasaan, tapi tak mengubah kenyataan bahwa kita adalah seorang Raja. Tidak apa-apa menangis di ruangan gelap. Bukan karena lemah, melainkan karena kita manusia.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s