(Book Review) What I Learned From: “I WANT TO DIE BUT I WANT TO EAT TTEOPOKKI 2”: Book By Baek See Hee

Buku ini adalah buku kedua dari “I WANT TO DIE BUT I WANT TO EAT TTEOPOKKI” dari Baek See Hee. Buku kedua ini kurang lebih masih berisi proses penyembuhan dari Baek See Hee yang mengalami depresi berkepanjangan. Namun di akhir buku saya bisa menilai bahwa she’s getting better, she’s healing. She’s understand her self more dan pelan-pelan berdamai dengan dirinya sendiri.

Dari buku ini saya pun menyadari, bahwa kita sering kali terjebak kepada masalah/pemikiran yang sama. Bahkan kita pun sudah sangat hafal atas jawaban dari masalah kita, namun masih saja terjerumus ke masalah yang sama. Ini pun saya alami. Katakanlah saya mengalami depresi, saat saya mencari tau penyebabnya dan berhasil melaluinya sekalipun, ternyata hal tersebut akan muncul lagi. Siklus tersebut akan terus muncul. Saya mungkin tidak begitu relate dengan insecurities yang Baek See Hee ceritakan di buku kedua ini, namun saya paham struggle untuk bisa keluar dari “lingkaran setan” ini tidak mudah.

Seperti biasa, saya akan membahas sedikit, hal-hal yang menarik bagi saya di buku ini:

1.Stop Generalizing

Diceritakan bahwa Bek See Hee adalah orang yang senang mengeralisasi dan hanya menilai dari satu sisi saja. Sebenarnya hal ini ada di buku pertama yang sudah saya bahas di point “2. Accepting Differences”. Perasaan ini muncul kembali di buku kedua saat Baek See Hee dicela oleh seseorang di internet, setelah buku pertamanya terbit. Psikiater Baek See Hee pun berkata, “Mencela sepenuhnya atas keberadaan seseorang padahal hanya mengenal satu sisi orang tersebut disebut dengan generalisasi”. Namun, saya pribadi lebih suka menyebut hal ini sebagai sikap “cepat menyimpulkan/easily judge” yang sering kali saya lakukan dahulu.

2.Lelah dengan menjadi Baik

Baek See Hee bercerita bahwa ia seringkali merasa lelah setelah berbuat baik kepada orang lain. Baek See Hee merasa bahwa ia sebenarnya tidak ingin beruat baik (terus menerus), yaitu dengan berusaha terlalu keras untuk menjaga suasana agar tetap menyenangkan dalam interaksi dengan orang lain. Ia merasa orang lain tidak berusaha untuk menyesuaikan dengan dirinya, sehingga hanya ia yang berusaha berpikir bagaimana percakapan bisa terus bejalan. Ia pun merasa kesal karena orang lain karena bisa bebas mengekspresikan dirinya, menjadi apa yang dia mau, sedangkan ia tidak.

Psikiaternya pun berkomentar, “Saya harap anda tidak menyamaratakan perjuangan setiap orang dan menggunakan itu sebagai alasan untuk menyalahkan diri sendiri. Tingkat perjuangan setiap orang berbeda-beda dan perlu penyesuaian dengan orang lain. Setiap orang pada awalnya pasti akan menyesuaikan diri dengan lawan bicara yang baru ditemuinya. Mungkin saja lawan interaksi anda merasa nyaman dengan anda sehingga bisa dengan bebas berekspresi. Daripada mencari jawabannya, anda bisa menganggap kemampuan sosial dan keramahan sebagai kelebihan anda.”

3.Luka yang terkubur

Baek Hee see menceritakan bahwa ia mempunyai banyak memori saat terluka karena rentan terhadap luka. Ia pun sebenarnya menyadari bahwa ia juga telah melukai seseorang, hanya saya yang ia ingat hanya lukanya sendiri, dan hal ini cukup membuat ia larut tenggelam dalam perasaan bersalah dari pemikirannya sendiri.

Psikiaternya pun berkomentar, “Pikiran tercipta dengan memikirkan berbagai macam kemungkinan. Anda memiliki ketakutan akan terus dicampakkan.Namun perlu diingat bahwa tanpa tekanan dan kegelisahan, tidak akan ada kemajuan. Jika dulu anda depresi karena memikirkan pikiran dan tindakan anda yang bertolak belakang, mungkin dengan tidak terlalu memikirkan pertentangan itu dan menganggapnya dengan ringan akan bisa membuat anda lebih nyaman.”

Dua hal tersebut cukup membuat saya merasa relate dengan Baek See Hee. Seperti orang di dalam yang hampir tenggelam yang berusaha tetap mempertahankan kepalanya diatas air, tidak ada yang mau dan suka dengan kondisi tersebut. Kita hanya tidak memahami bagaimana caranya keluar dari kondisi tersebut karena pikiran cemas yang tercipta. I believe she’s done a lot to survived, but failed, that’s why she seeks help from this psychiatrist. Saat ini Baek See Hee sedang belajar bagaimana cara keluar dari kondisi tersebut.

Ada beberapa insight yang saya dapatkan di dalam buku ini. Yang pertama, dalam hubungan dengan orang lain, kita cenderung menyembunyikan sosok diri kita yang sebenarnya. Apalagi saat kecemasan meningkat, kita cenderung merasa curiga dan bisa sampai kehilangan harga diri karena sepertinya kita hanya memperlihatkan sosok yang lawan bicara inginkan (tidak menjadi diri sendiri). Kecenderungan inilah yang harus kita kendalikan. Pada dasarnya, semakin kita bersikeras memperkirakan reaksi lawan bicara, kita akan semakin menuju ke arah pemikiran negatif. Kita hanya perlu berpikir dengan sederhana.

Yang kedua, saat kita memikirkan masa lalu, emosi menjadi campur aduk karena ’emosi saat itu’ masih terpendam. Saat kita mengungkapkannya, tentu kita akan bisa melihat dari sudut pandang yang lebih objective dan bahkan emosi tersebut bisa menghilang karena menyadari bahwa ternyata masalahnya tidak sebesar yang dibayangkan.

Secara general, perbedaan Baek See Hee yang dulu dan sekarang adalah, saat ini ia lebih kompeten untuk mengatasi rasa sakit. Dahulu, Baek See Hee menyimpan rasa sakit dalam kotak rahasia dan menguncinya untuk sementara waktu, karena energinya tidak cukup untuk menghadapinya. namun, pada akhirnya malah memilih untuk menutupi luka tersebut dengan perasaan yang menyenangkan dan rasa cemas akan ‘ketakukan untuk terluka lagi’ pun timbul. Psikiater Baek See Hee pernah berkata. “Setelah berkali-kali menutupi luka itu, Anda bahkan tidak tahu kebenaran apa yang tanpa sengaja Anda kubur bersamanya.”

Di proses penyembuhan ini, Baek See Hee merasa kotak tersebut sudah robek (mungkin ia sendiri yang merobeknya tanpa ia sadari) dan ia pun merasa lega dan lebih baik. Baek See Hee pun berkata: “Walaupun perlu waktu untuk latihan, rasanya saya masih memiliki cukup tenaga untuk menghadapi masalah saya. Saya sudah bisa mengatur emosi dengan lebih baik. Ketahanan emosi saya juga lebih baik dan saya tidak mudah terpengaruh lagi. Saya merasa perubahan saya tidak secara dramatis, namun secara perlahan-lahan”

Sebagai penutup, ini adalah kata-kata dari Baek Hee See yang insiratif bagi saya di bagian akhir bukunya:

“Dibandingkan menerima kekurangan diri, aku memutuskan untuk tidak memandang negatif diriku sendiri. Aku juga mempunyai banyak sisi yang bercahaya. Aku hanya menolak untuk melihatnya, sampai aku menjadi frustasi. Jika dahulu aku hanya bermain-main di bagian dunia yang sunyi, sekarang aku juga akan berlatih untuk bermain di ruang hijau dan bercahaya. bisa dibilang semua ini adalah satu-satunya usahaku untuk hidup didunia, jadi penting bagiku untuk mempercayainya terlebih dahulu.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s